— Melayani, Amanah, Nyaman, Integritas, Sigap, Edukatif —

Melangkah Bersama, Tumbuh Bersama: Cerita Outbound BDK Ambon 2025

Outbound Kairatu Beach (9–11 Desember 2025)
Perjalanan itu dimulai pada suatu pagi yang terasa lebih cerah dari biasanya. Dari halaman Kantor BDK Ambon, rombongan pegawai berkumpul dengan ransel di punggung dan senyum yang tak bisa disembunyikan. Ada yang datang dengan motor, ada pula yang menumpang mobil bersama rekan-rekannya, semuanya menuju Pelabuhan Hunimua, Liang. Titik awal dari sebuah perjalanan yang bukan sekadar perjalanan dinas, melainkan pengalaman yang menghadirkan kembali rasa kebersamaan.
Setibanya di pelabuhan, suasana semakin hidup. Angin laut membawa aroma asin khas pesisir, seakan menyambut rombongan yang siap berangkat. Kapal yang akan membawa peserta ke Kairatu Beach perlahan terisi dengan tawa, percakapan kecil, dan kamera yang mulai mengabadikan momen. Perjalanan laut sekitar dua jam itu terasa singkat; ombak yang lembut, percikan air, dan pemandangan Pulau Ambon yang menjauh perlahan membuat siapa pun merasa sedang melangkah keluar dari rutinitas.
Ketika kapal merapat di Pelabuhan Waipirit, rombongan kembali melanjutkan perjalanan darat menuju Kairatu Beach. Begitu tiba di lokasi, hamparan pasir, pepohonan yang bergoyang pelan, dan suara ombak menjadi sambutan pertama yang membuat hati terasa damai. Peserta beristirahat sejenak sambil menunggu arahan dari Event Organizer ( Maluku Yale Adventure) , waktu yang cukup untuk menghela napas dan menikmati hembusan angin pesisir yang hangat.

Sore Hari: Laga Persahabatan yang Menyulut Semangat
Sore hari di Kairatu dimulai dengan suasana penuh energi. Lapangan bola dengan rumput hijaunya menjadi arena persahabatan antara tim BDK Ambon dan Kantor Kemenag Kabupaten Seram Bagian Barat. Sorakan kecil, tawa, dan semangat sportif mewarnai pertandingan itu. Tidak ada yang benar-benar peduli siapa menang atau kalah yang penting adalah kebersamaan, gerak tubuh yang lepas, dan tawa yang mengalir alami ketika bola meleset atau gol tercipta.

Malam Pertama: Menyalakan Nilai, Menghadirkan Refleksi
Malam hari tiba dengan udara yang sejuk dan suasana yang tenang. Kegiatan diawali dengan Rapat dan Evaluasi Penguatan Budaya Kerja Berakhlak di Lingkungan BDK Ambon. Meski suasana malam yang kian larut , sesi ini menjadi ruang refleksi , mengingatkan kembali untuk apa kita bekerja, bagaimana kita melayani, dan nilai apa yang ingin kita bawa pulang dari perjalanan ini.
Usai kegiatan, peserta berjalan kembali ke kamar masing-masing. Suara ombak malam mengiringi langkah mereka, semacam pengantar tidur alami yang membisikkan, “Besok akan lebih seru.”


Hari Kedua: Energi, Tawa, dan Kolaborasi
Tanggal 10 Desember dibuka dengan senam pagi di halaman resort. Langit cerah, angin lembut, membuat senam terasa berbeda, lebih hidup, lebih membebaskan. EO memandu dengan semangat, dan peserta mengikuti dengan tawa yang tak bisa ditahan.
Setelah pemanasan, kegiatan ice breaking dimulai. Games demi games menuntut kerja sama, ketangkasan, strategi, dan tentu saja kekompakan. Suasana dipenuhi energi riuh: teriakan semangat, pasang surut kemenangan, candaan, dan tawa lepas yang menyatukan semua dalam satu rasa, kita sedang menjalani sesuatu bersama.




Walking Hill to Gunung Mulia
Siang menjelang ketika rombongan bersiap menuju Gunung Mulia. Rute Walking Hill to Gunung Mulia menunggu dan di sinilah cerita paling indah mulai tercipta.
Perjalanan dimulai dari jalan desa yang kecil, lalu berganti menjadi hamparan sawah luas yang memantulkan cahaya matahari. Peserta berjalan beriringan, bercakap-cakap, berfoto, dan sesekali berhenti untuk membeli hasil tanaman petani. Senyum ramah warga desa menambah hangatnya perjalanan.
Terik matahari memang menyengat, namun di balik itu ada kekuatan lain: kebersamaan. Ada yang saling menunggu, ada yang mengajak bercanda agar tidak lelah, ada yang membawakan air untuk rekannya. Perjalanan ini bukan sekadar melangkah menuju puncak, ia menjadi ruang kecil yang membuat semua merasa dekat satu sama lain.
Saat puncak bukit akhirnya terlihat, rasa lelah seakan hilang diganti takjub. Dari atas Gunung Mulia, pemandangan terbentang luas, sawah, perbukitan, dan angin yang menyapu pelan wajah. Peserta duduk menikmati gorengan hangat sambil memandang jauh ke bawah, seolah dunia tiba-tiba melambat.


Lomba Mancing dan Kembali ke Kairatu Beach
Setelah beristirahat, peserta melanjutkan kegiatan dengan lomba memancing. Suasana penuh tawa ketika kail dilempar, ada yang berhasil, ada yang zonk, dan ada yang entah bagaimana malah menarik kail kosong. Namun justru di situlah letak keseruannya.
Perjalanan pulang menjadi cerita tersendiri. Sebagian peserta kembali dengan kendaraan sawah yang unik, kendaraan mini dengan muatan penumpang yang over, namun penuh kegembiraan. Sisanya memilih berjalan kaki sambil menikmati senja yang merayap turun



Malam Terakhir (Perpisahan yang Menghangatkan Sekaligus Mengharukan)
Malam hari digunakan untuk istirahat, salat, dan bersiap menghadapi acara puncak. Setelah pengumuman pemenang games, tibalah momen yang ditunggu, malam pelepasan untuk Ibu Dra. Nurhayati Payapo.
Suasana berubah sendu namun hangat. Cerita-cerita tentang beliau mengalir, menyentuh, dan penuh kekaguman. Ada tawa, ada air mata yang diam-diam diseka, ada doa yang terucap tulus agar perjalanan baru dalam purna bakti beliau berjalan penuh kebahagiaan.
Salaman, pelukan, dan kehangatan itu terasa seperti penutup indah bagi sebuah kebersamaan yang telah berlangsung lama.

Hari Ketiga: Pulang dengan Hati Penuh Cerita
Keesokan paginya, peserta bersiap kembali ke Ambon. Koper ditata, kamar dirapikan, dan langkah kecil menuju Pelabuhan Waipirit terasa sedikit berat, seakan hati masih ingin tinggal sedikit lebih lama di tempat indah ini.
Perjalanan laut kembali membawa rombongan ke Ambon Manise. Ombak bergulung lembut, seolah mengembalikan peserta ke rutinitas, tetapi kali ini dengan hati yang lebih hangat dan energi yang terbarui.
Outbound ini bukan sekadar kegiatan.
Ia adalah perjalanan, cerita, dan ruang kebersamaan.
Ia menyatukan tawa, melepas penat, meneguhkan nilai, dan merangkul kenangan.
Dan mungkin, untuk sesaat, semua yang ikut merasakan bahwa bekerja bersama bukan hanya tentang tugas, tetapi tentang manusia di baliknya.
Penulis : Wa Ode Liana
